Pencegahan Bencana

Istilah pencegahan ini baru beberapa waktu lalu dimasukkan ke dalam fase yang ada di manajemen kebencanaan. Terus terang, saya pun kadang-kadang masih suka bingung juga antara tindakan yang masuk kategori pencegahan atau masuk kategori mitigasi. Yang pasti menurut saya perbedaan mendasarnya, mitigasi adalah tindakan atau langkah-langkah yang dilakukan untuk mengurangi dampak dari bencana sedangkan pencegahan adalah bagaimana cara mencegah atau menghindar dari bencana. Saya mengharapkan mungkin ada dari pembaca tulisan ini yang bisa memberikan masukan atau kritik untuk menambah wawasan kita semua.

Kita tahu bahwa beberapa bencana tidak bisa dicegah, khususnya bencana alam. Namun risiko kehilangan nyawa atau cedera dapat dikurangi dengan rencana evakuasi yang baik, perencanaan lingkungan yang baik dan sebagainya.

Kembali ke kasus banjir di Jakarta awal 2013 lalu. Mungkin kita masih ingat bahwa pemerintah dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan upaya modifikasi cuaca, yaitu dengan cara mencegah pembentukan awan dan menurunkan hujan di luar wilayah rawan banjir. Yang dilakukan oleh kedua badan pemerintah ini masuk kategori tindakan pencegahan, dalam hal ini adalah mencegah hujan deras turun di daerah rawan banjir di Jakarta dan sekitarnya.

Contoh lain untuk bencana tanah longsor adalah relokasi warga dari daerah yang rawan longsor. Hal ini juga termasuk tindakan pencegahan.  Termasuk juga usaha pemerintah untuk menjaga struktur tanah agar tidak berubah jika terjadi hujan deras atau gempa dengan cara melakukan reklamasi atau penanaman pohon keras.

Pencegahan

Larangan atau regulasi pemerintah untuk tidak membuat rumah atau daerah pemukiman di daerah-daerah rawan bencana juga masuk dalam kategori pencegahan.

Termasuk usaha kita dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan saluran air / got di daerah tempat tinggal kita dan sebagainya termasuk kategori pencegahan terhadap banjir dan penyakit menular.

Upaya pencegahan bencana ini merupakan suatu hal yang sangat penting, harus dilakukan terus menerus dan berkelanjutan oleh kita semua.

Oleh karena itu, pada bulan Januari 2005 di Kobe, Hyogo – Jepang, sebanyak 168 negara setuju untuk mengadopsi rencana global selama 10 tahun untuk pengurangan risiko bencana alam yang disebut Kerangka Aksi Hyogo (Hyogo Framework for Action/HFA). HFA ini memiliki prinsip, prioritas tindakan dan cara praktis untuk mencapai ketahanan bencana bagi masyarakat yang rentan.

Categories: Manajemen Bencana | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 728 other followers

%d bloggers like this: